RSS

me and my job in future (insyaAllah)


Gue mau cerita tentang kegiatan liburan gue.
Gue, mahasiswa farmasi yang memasuki semester 7 namun belum menemukan calon suami yang masih disimpan sama Allah rahasianya (ngelantur), tiap pulang punya agenda wajib.
Ke apotek.
Iya, dengan si mama yang juga seorang apoteker, jadilah keluarga ini punya apotek kecil-kecilan.
Dulu pas masih jaman maba, dateng ya cuma buat bengong, ambil-ambil barang doang. 
Ditanya obat apa ya masih ga paham.
Tahun berikutnya lagi, mulai nulis etiket dan informasi obatnya, tapi ga pernah sampai ngadepin pasien.

Setahun terakhir kuliah, banyak hal yang menjadi pelajaran.
Gue tertarik pada bidang pelayanan, bukan industri seperti teman-teman aku umumnya.
Gue tertarik dengan ilmu patient counseling untuk meningkatkan pemahaman pasien terkait obat dan membantu mengoptimalkan kesembuhan mereka.

Terdengar remeh??

Let's see

Sekarang aku mulai dipercaya buat jaga di front, meski tiap dateng bawaannha kayak mau kuliah bawa buku segala. Hahhahaa
Jadi kalo lupa bisa ngintip dulu.

Ada beberapa pasien yang seolah ga mendengarkan, ga apa-apa, niat ini yang penting ikhlas.
Namun tadi,
Ada pasien dengan penyakit diabetesnya.
Pemberian informasi bahwa obat dikonsumsi beberapasaat sebelum makan atau bersamaan dengan makanan ternyata belum diketahui oleh beliau. 
Sampai istri nya bilang 'pa itu didengin gimana cara makan obatnya'
Sederhana, memang.
Tapi itu penting untuk mengoptimalkan dan meyakinkan kalau obat yang masuk ke dalam tubuh benar-benar berkerja optimal.

Kemarin juga ada bapak-bapak yang sampe heran karena gue memberikan informasi obat dan menjelaskan khasiatnya satu-satu.
Sepele ya?
Iya, tapi peran kita sebagai tenaga kesehatan juga harus mengedukasi, agar pasien juga paham bahwa tiap obat yang masuk ke dalam tubuhnya itu menunjang kesembuhannya.Ga cuma dianggap ga penting, 
Terus ga dimakan, 
Abis itu ga sembuh,
Balik ke dokter lagi, ngabisin uang deh.
Kalo nebus resepnya ke apotek gue lagi, ya untung.
Tapi kalo inget peran sebagai tenaga kesehatan, ya salah kan?

Gue ga mau kayak gitu.

Seperti gue menegaskan bahwa antibiotik beneran harus habis, bahkan nulis jam buat konsumsinya,
Salah satu cara untuk mencegah resistensi antibiotik
Semoga tiap hal sepele yang gue lakuin ini menjadi berkah, dan membuat tiap pasien menjadi lebih baik lagi.

Hal ini juga yang bikin gue sadar, kalau being a pharmacist is my passion.

Udah ga ada ragu lagi
Gue cinta tiap hal yang gue lakuin saat ini meskipun sering banget ngeluh.
Hahhahaaa

Oh ya, doakan, semoga suatu saat saya bisa memiliki apotek dengan pelayanan terbaik, menjamin kesembuhan pasiennya
Membuat mereka percaya bahwa peran farmasis itu ada.
Ga cuma jadi bagian manusia yang ngeluh kenapa mereka ga dianggep tapi ga ngelakuin kewajiban. Blah!

Membuat apotek dengan slogan no pharmacist no service, amin.

Someday, insya Allah

0 komentar:

Posting Komentar