RSS

Sabtu Bersama Bapak



Baru aja baca buku ini, termasuk telat sepertinya hehehe abisan udah lama ga main ke Gramedia. Program Apoteker kejam jendraaalll L

I loveee this book. Saking sukanya sampai aku ceritain ke mana-mana. Mungkin, lebih efektif kalau aku bikin review tentang buku ini, biar isi blog ini ga curhat mulu (tutup mata)

Okay, here we go.
Buku karangan Mas Adhitya Mulya ini bercerita tentang kehidupan dua saudara, Satya dan Cakra yang ditinggal mati oleh ayahnya saat mereka masih kecil. Namun sang bapak tidak pernah benar-benar pergi, ia selalu hadir, dalam bentuk video, setiap hari Sabtu.

Aku takkan bercerita panjang lebar tentang cerita di buku ini, mending baca sendiri. Sumpah, ga nyesel kok. Yang akan aku ceritakan, adalah tentang nilai yang ada dalam buku ini. J
Menurutku, buku ini wajib dibaca untuk setiap lelaki. Kenapa? Karena buku ini mengajarkan bagaimana menjadi seorang lelaki, ayah, yang baik. Namun bukan tidak ada nilai untuk seorang wanita, banyak kok pelajaran yang bisa diambil.

Contoh saat Cakra (atau juga dipanggil Saka) mengungkapkan perasaannya pada Ayu, dia bilang gini.

“Pilih saya, jika bagi kamu saya adalah perhiasan dunia dan akhirat. Karena, bagi saya, kamu adalah perhiasan dunia dan akhirat”

Dikesempatan lain, Ayu bertanya pada Saka, apa maksud perkataannya itu. Saka menjawab,

“Kamu pintar, dan cantik. Itu sudah jelas. Dan yang pasti, saya melihat sepatu kamu ada di mushala perempuan, pada waktunya”

Valuenya? Ya, jelas kita harus mencari yang terbaik. Menyadarkan aku sejujurnya, saat jatuh cinta, jangan pernah menutup mata untuk hal lain. Tetap gunakan logika dan kepala dingin (oke maafkan kalau saya maksa. Kwkwkwkwk)

Disisi lain, Saka bercerita pada Ayu, jangan mencari orang yang melengkapi kamu. Misalnya, ilmu agama kita kurang, lalu mencari jodoh yang ilmu agamanya baik. Itu melengkapi. Tapi, bukankah waktu menjadi terbuang hanya untuk yang satu memperbaiki yang lain? Padahal memiliki ilmu agama yang baik adalah kewajiban tiap manusia, terlepas dari apapun itu.

“Find someone complimentary, not sumplementary”
“tiga kurang tiga berapa Yu?”
“Tiga kali tiga berapa Yu?”

Actually, itu juga quote yang diambil mas adhitya mulya dari Oprah Winfrey. Dan itu benar-benar menyadarkan saya. Di Al Quran pun sudah tertulis, lelaki yang baik, untuk perempuan yang baik. Perempuan yang baik, untuk lelaki yang baik. Yes, ratusan tahun yang lalu sudah tertulis, sudah didengar dan dibaca, namun menemukannya dalam tulisan yang berbeda, akan menjadi sangat mengingatkan J

Buku ini mengajarkan, bahkan saat setelah kita menikah, jangan pernah lupa untuk terus berpenampilan menarik untuk pasangan kita. No, pasangan di sini bukan dalam arti pacar. Memang dalam hubungan semu, kita pasti akan berusaha terlihat baik dan menarik. Namun seringkali menjadi lupa menjaga penampilan setelah menikah (padahal gue belum nikah wkwkwkkw). Ini mengingatkan, bahwa sesungguhnya yang paling berhak untuk mendapatkan penampilan terbaik kita, adalah pasangan. Jangan pernah berhenti berusaha berpenampilan menarik, demi orang terkasih <3

Mas Adhitya Mulya juga mengingatkan, bahwa menjadi orang tua yang baik, bukan dengan memberikan beban “harus menjadi panutan” pada si Sulung. Si Sulung tidak pernah meminta untuk menjadi seorang Sulung. Maka jangan paksa mereka harus menjadi panutan. Kita, memilih menjadi orang tua. Dengan menikah, artinya kita memilih untuk siap menjadi orang tua. Karena itu, yang wajib menjadi panutan adalah orang tua. Wajib menjadi panutan bagi anak-anaknya. Jika ingin menjadikan Sulung panutan, lakukan dengan cara agar Sulung menjadi sukarela menjadi panutan. Misalnya, contoh dari ayah Satya dan Cakra.

“Kang, tolong bantu Saka matematika. Dia maunya diajarin sama kamu. He thinks you’re smart”

Maka Sulung akan menjadi lebih ikhlas dalam melindungi adiknya. Jangan paksa mereka, karena orang tua yang membuat mereka menjadi Sulung, itu bukan pilihan mereka. Maka buatlah mereka menjadi ikhlas J

Dan lainnya.
Dan sebagainya.

Banyak sekali pelajaran dari buku ini. Bahasa yang ringan, namun penuh makna membuat buku ini mudah dibaca tanpa harus mengerutkan dahi.

Highly recommended pokoknya.


Selamat membaca

#2

Tik
Mata kita saling bertatap
Tik tik tik
Entahlah, aku bahkan tak lagi menghitung waktu
Entah hanya sedetik, entah bermenit lamanya
Tik
Entah apa yang ada dalam pikirmu saat itu
Otakku pun terasa lumpuh
Tik

Bolehkan aku mengunci waktu ini, Tuhan?

bagaimana jika bahagiaku ternyata sengsara untukmu?
mampukah aku melepas bahagiaku untuk kebahagiaanmu?

Tuhan,,
harus seperti apa lagi

menyesal

entah apa rasanya,
seseorang yang sudah lama sekali tak berjumpa, tiba-tiba hadir dalam mimpi
tetiba kangen,
namun begitu enggan untuk menyapa
sungkan rasanya
bertahun tanpa kata, maka saat menghubungi, kata apa yang tepat untuk diucapkan?
"hai apa kabar?" terasa begitu janggal
ataukah aku yang penuh dengan praduga

dua kali, kamu hadir dalam mimpi
lalu tadi, kamu mengucapkan selamat tinggal
apa kehadiran dalam mimpi tadi adalah salam perpisahan
entahlah
lalu aku mulai menyesali praduga-praduga yang tak beralasan itu

Tak masalah dengan tiap kesedihan yang kamu berikan
Tak masalah dengan tiap air mata yang mengalir di pipi
Asal ada alasan untuk tersenyum setiap harinya
Maka semua akan baik-baik saja
Aku akan tetap bahagia

Ajari aku

Ajari aku tentang keikhlasan y Allah
Entah mengapa,
Yang satu ini begitu sulit

Ajari aku tentang memaafkan
Entah mengapa,
Yang satu ini begitu menyesakkan

Ajari aku ya Allah

#


untuk kamu para lelaki,
sebelum kamu menyakiti wanita lain,
ingatlah wanita-wanita yang kamu rela mati untuknya
ibumu,
saudara perempuanmu,
istrimu,
anak-anakmu
ingatlah bagaimana perasaanmu jika ada yang menyakiti mereka

untuk kamu para wanita, termasuk aku,
sebelum kamu bersikap,
ingatlah bagaimana para lelaki yang mencintaimu dan menanggung dosamu
ayahmu,
saudara lelakimu,
suamimu,
anak-anakmu
berpikirlah sebelum kamu melangkah

(hasil obrolan sore yang sukses menampar kanan-kiri atas-bawah)

Allah sayang,

Allah sayang Anita,
Makanya Allah tunjukin semua ini

Allah percaya sama Anita
Jadi Anita pasti bisa lewatin semua ini

Allah lagi ngasih ujian
Anita mesti bisa lulus ujian ini dan jadi lebih kuat

Allah sayang, Allah cinta,
Sama Anita
:)

Ada yang tak berubah
Ada yang selalu berubah

Namun, hujan di bulan juni akan selalu setia

masak yuk masak


jadi ya, udah dua kali ide gue di tolak sama dosen pembimbing. bener sih alesannya, dosen gue ini baik banget pokoknya. tapi, disisi lagi, gue jadi galau. temen-temen gue udah pada nulis UP, udah pesen reagen, eh gue judul aja belom fix -_____-

jadi, akhir-akhir ini gue sering melakukan hal lain untuk merefresh diri.
jadi EMAK-EMAK.
iya, gue berasa emak-emak sejati. tiap dua hari gue nyuci, hampir tiap hari nyetrika baju, masak, beuh.. kurang apa lagi modal gue untuk jadi istri ya?
jawab: calonnya belum ada

nah, sebenernya yang gue masak sih yang simpel-simpel aja. ga kayak rendang, gitu (kayak bisa aja nit -____- ) biasanya, yang gue masak sih macam pasta gitu, spagetti, makaroni, nasi goreng, sandwich, sama agar-agar. yang bantu makanin?? ya itu temen-temen gue yang cuma bisa diterima itu (idam-uqie-herlin-sarah), kalo engga gue bawa ke kampus dan diabisin temen-temen angkatan.

nah, korban keisengan gue tadi sore bernama Puding Teler.
hahahhaa, ngaco ya?
gue ceritain asal mulanya. jadi, dari beberapa hari yang lalu, gue pengen banget bikin puding nangka. puding putih, dikasih susu putih, ada nangkanya, pake vla, sluuurrrppp..
gue udah ngidam banget, tapi biasanya kan gue balik sore, biasa anak rajin gitu nongkrongnya di perpustakaan, hahaha, jadi si nangka yang biasanya ada di penjual buah deket kosan udah abiisss.. tadi pagi pas mau k kampus eh si bapak nangka udah ada, jadilah langsung gue beli dan seharian dikekep di tas.
-____-

pulangnya, gue sama idam beli agar-agar di alfa*art depan kosan. asal comot aja agar-agar merek Swallow (kayak nama sendal) soalnya biasanya mama beli itu buat puding putih.
nyampe kosan, gue langsung potong-potong itu nangka jadi dadu kecil, terus pas mau masukin agar-agar, idam tereak "niiitttt ini agar-agarnya bedaaa... yang satu merah yang satu ijoooo"
dziiinnngggg
mulai deh gue ngaco -____-
akhirnya, dengan otak jenius gue (halah), gue putuskan hanya memasak salah satu aja dan gue pilih yang warna merah. terus masukin susu kental manis putih yang banyak berharap si merah jadi luntur (ngaco). terus setelah mendidih, gue masukin nangkanya. dan setelah dilihat-lihat, waahhhh kok kayak es teler ya tis? (ngomong sama idam)

akhirnya si puding nangka susu berubah menjadi puding teler.
tapi enak kookkk. buktinya udah abis yuhuuuuu

puding dan vla (dalam gelas)

ayoo pangeran berkuda putih, ini modal jadi istri yang baik udah ada lho #plak #dilematingkatakhir